Langsung ke konten utama

Restless Life in a Pandemic World

 


Pandemi tidak membuat kita berhenti untuk istirahat dan memberi bumi waktu untuk merestorasi, hidup malah semakin cepat dan semakin menjadi.

Sebelum pandemi, dunia bergerak begitu cepat. Informasi melintas sangat deras. Bahkan mata kanan dan kiri bisa mengolah informasi yang berbeda dalam waktu bersamaan. Saat pandemi datang, semua dipaksa terkurung di tempatnya masing-masing. Aktivitas konvensional berhenti sejenak. Bumi beristirahat. Ada yang menemukan ketenangan. Ada yang justru mendapatkan kegiatan baru. Ada yang beralih profesi. Ada juga yang jadinya tidak bisa mencari penghidupan

Tapi hanya sebentar.

Kondisi pasar seolah mengharuskan kita semua terus bergerak. Apapun kondisinya, dimanapun, kapanpun, kita sekarang dipaksa untuk bertatap layar. Melakukan pekerjaan sehari-hari melihat layar. Melakukan pekerjaan serius menatap layar. Mencari hiburan pun ada di layar.

Memang kenapa sih bumi gak bisa istirahat, kalau semuanya masih melihat layar, kapanpun, dimanapun? Bumi tetap menopang bebannya. Listrik yang konsumsinya semakin besar, penghabisan batubara, jaringan internet, gedung isi ribu jutaan rak-rak server menambah keruh peredaran jejak karbon, adalah beban yang harus diterima bumi

Sudah? Itu kah? Bumi saja? Ternyata yg menatap layar itu manusia ya, bukan robot. Manusia-manusia itu berkutat terlibat dalam peredaran uang melalui kesibukan di layar, berkedok patuh pada atasan atas relasi kuasa. Ya, apa saja yg bos suruh, ya harus dilakukan! Lelah atau mau pingsan, semua gabisa mengalahkan cicilan dan pengeluaran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Field Report (FR) Yogyakarta, North, to South

Selasa 5 Feb 2013 Destinasi Kaliurang Merapi, Prambanan, Parangtritis, Keraton, Malioboro Perjalanan menuju St Senen Depok – Gondangdia (17:30-18:00) KRL Ekonomi Jabodetabek  è 2ribu/orang Gondangdia – St Senen (18:00-18:20) Kopaja P20 è 2ribu/orang Tips: di bis ini sangat rawan akan pencurian, terlebih ketika jam pulang kerja, pukul 16:00- 19:00 Makan malam di dekat masjid st Senen: Pecel Lele, 9ribu/porsi Perjalanan menuju Malioboro Pasar Senen – Lempuyangan Yogyakarta (20:45 – 06:27) KA Progo è 35ribu/orang

Catatan Perjalanan Mt Rinjani

Catatan Perjalanan Mt Rinjani Empleng Empleng, 21-30 Agustus 2012 21 Agustus 2012 Perjalanan ke Solo pake KA Brantas, Rp 40.000 Tanahabang (16:05) – Solo Jebres (03:40 22 Agustus 2012) 22 Agustus 2012 Perjalanan ke Banyuwangi pake KA Sri Tanjung, Rp 35.000 Solo Jebres (08:58) – BanyuwangiBaru (21:29)

Ramadhan 1438 H

Marhaban ya Ramadhan. Waktu berasa cepet banget berlalu. Serasa baru kemaren aja taun baruan 2017, sekarang udah mau pertengahan, dan artinya bentar lagi Ramadhan. Taun ini (dan taun-taun sebelumnya), gw selalu punya rencana sendiri untuk ngejalanin Ramadhan. Di taun-taun yg lalu, gw punya rencana safari Ramadhan, jalan-jalan ngunjungin tempat, bisa masjid atau lainnya, selama Ramadhan. Dan di taun 2016 gw udah safari pindah-pindah masjid, nyobain takjil dari masjid ke masjid, bagi-bagiin takjil, buka di mesjid A sahur di mesjid B, sampe itikaf pindah-pindah (iya itikaf-itikafan, yang harusnya menetap di satu masjid) di jabodetabek sampe bandung. Sedihnya adalah, ide safari Ramadhan ini datang dari sahabat deket gw yang sekarang udah almarhum karena sakit.  Postingan ini bukan untuk pamer-pamerin ibadah di bulan Ramadhan, cuma sebagai sarana cerita aja. Taun 2017 ini gw seharusnya berencana untuk lebaran di Malaysia. Random memang. Dulu pas BTS (Bromo Tengger Semeru) ...