Langsung ke konten utama

Teknologi dan Haruskah Kita Bertaruh Kepadanya?



Kali ini iseng-iseng menuangkan pemikiran gw tentang teknologi di kehidupan. Setelah jadi karyawan, atau kalo kata seorang temen tuh jadi 'budak kapitalis' selama hampir setahun, yang gw pikirkan adalah jika gw seperti ini terus, atau at least di usia 20an ini, gw merasa ketakutan akan masa petualangan yang hilang.

[Tulisan ini aslinya dibuat sekitar tahun 2015/2016]

Kerja kantoran, apalagi jadi programmer yg kerjaannya memang harus duduk mantengin komputer seharian bisa bikin stres. I'm slowly living sedentary. Dalam satu pekan 8x5 jam berinteraksi dengan komputer, lalu setelah kerja gw 4x5 jam interaksi dengan smartphone, only laugh to digital things. Ini semua belum ditambah weekend yg hampir gabisa berkomunikasi dengan orang baru karena butuh tidur banyak dan makin kesini makin mager buat kemana-mana.


Proses bekerja 8 to 5 ini merupakan jenis pekerjaan yg office-related, artinya kerjaannya cuma bisa dikerjain di kantor, gabisa di rumah (Well life changes when pandemic hits, but wfh is as worse as before I think). Biasanya kerjaan ini adalah kerjaan yang berhubungan sama operasional kantor atau urusan administratif. Nah kalo kerja begini lama kelamaan bisa juga menjadi ter-otomatisasi, alias alienasi perilaku. Tubuh jadi terlatih untuk melakukan hal yang relatif sama setiap harinya, kecuali sabtu minggu. Bangun tidur, sarapan, mandi, bagi yg udah berkeluarga nganter/berangkat bareng anak yg mau berangkat sekolah, berangkat kerja, bagi yg rumah jauh berarti commute pake transportasi publik, sampe kantor duduk, ngetak ngetik, meeting, pulangnya capek, istirahat, besoknya gitu lagi.

Mungkin ini terdengar sedikit naif tapi ini semua betulan terjadi nyata. Semuanya terekam, bisa berjalan begitu aja dan bisa membuat orang 'mati rasa' sama kehidupan. Ada ungkapan yg bilang kalo manusia itu hidup sampe umur 25 tahun, setelah itu mati, yg mati jiwanya tapi jasadnya tetap hidup, tinggal nunggu dikubur aja.



Tentang teknologi lagi. Berhadapan dengan smartphone tiap hari itu emang udah gabisa dihindarin, gw sendiri pun merasakan hal itu. Bangun tidur, hal pertama yg dilakukan cek smartphone. Jalan dari rumah/kosan, sampe public transport/kendaraan pribadi, hal pertama yg dilakukan cek smartphone. 

Menurut gw pribadi, kenapa orang selalu fokus ke smartphone karena komunikasi di smartphone itu limitless, beda dengan komunikasi verbal. Misal, kita komunikasi langsung antara 4 orang, ya kita cuma bisa berinteraksi sama 4 orang itu. Tapi di smartphone, wah udah gila-gilaan bisa komunikasi sama siapapun dalam jumlah berapapun. Tapi balik lagi, komunikasi non verbal itu penting. Kalo mau liat silakan intip ke sini: https://www.youtube.com/watch?v=OvEci5Bjgd4.


Kadang gw berpikir ekstremnya gitu, gimana kalo seandainya manusia-manusia modern yg udah terlanjur terpapar teknologi yg sangat canggih dan amat memudahkan ini beralih ke kehidupan tradisional? Tanpa koneksi internet, ya mungkin seminimal minimalnya ada listrik, terus tinggal di pedesaan, kerjanya seputar ngangon atau macul aja, kadang gw penasaran apa bisa ya seperti itu? Kondisinya diputarbalik lagi seperti jaman dulu. Apakah akan lebih membawa kebaikan? Atau sama aja dampaknya kayak orang-orang modern jaman sekarang?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Field Report (FR) Yogyakarta, North, to South

Selasa 5 Feb 2013 Destinasi Kaliurang Merapi, Prambanan, Parangtritis, Keraton, Malioboro Perjalanan menuju St Senen Depok – Gondangdia (17:30-18:00) KRL Ekonomi Jabodetabek  è 2ribu/orang Gondangdia – St Senen (18:00-18:20) Kopaja P20 è 2ribu/orang Tips: di bis ini sangat rawan akan pencurian, terlebih ketika jam pulang kerja, pukul 16:00- 19:00 Makan malam di dekat masjid st Senen: Pecel Lele, 9ribu/porsi Perjalanan menuju Malioboro Pasar Senen – Lempuyangan Yogyakarta (20:45 – 06:27) KA Progo è 35ribu/orang

Restless Life in a Pandemic World

  Pandemi tidak membuat kita berhenti untuk istirahat dan memberi bumi waktu untuk merestorasi, hidup malah semakin cepat dan semakin menjadi. Sebelum pandemi, dunia bergerak begitu cepat. Informasi melintas sangat deras. Bahkan mata kanan dan kiri bisa mengolah informasi yang berbeda dalam waktu bersamaan. Saat pandemi datang, semua dipaksa terkurung di tempatnya masing-masing. Aktivitas konvensional berhenti sejenak. Bumi beristirahat. Ada yang menemukan ketenangan. Ada yang justru mendapatkan kegiatan baru. Ada yang beralih profesi. Ada juga yang jadinya tidak bisa mencari penghidupan Tapi hanya sebentar. Kondisi pasar seolah mengharuskan kita semua terus bergerak. Apapun kondisinya, dimanapun, kapanpun, kita sekarang dipaksa untuk bertatap layar. Melakukan pekerjaan sehari-hari melihat layar. Melakukan pekerjaan serius menatap layar. Mencari hiburan pun ada di layar. Memang kenapa sih bumi gak bisa istirahat, kalau semuanya masih melihat layar, kapanpun, dimanapun? Bumi tetap m...

Ungaran yang Menyenangkan

Tulisan ini tentang perjalanan kami kemarin, di bulan Februari 2019. Jadi kami abis dari Gunung Ungaran. Gunung Ungaran ini gak terlalu tinggi. Tapi dari segi pengalaman, gw merasa sangat menikmati. Gw bersyukur dikasih harta yg cukup, waktu, tenaga dan kesempatan beraktivitas yg menyenangkan dan terasa 'hidup' banget selama jalan-jalan kemarin. ======================= Kami berangkat bertujuh dari St Pasar Senen pukul sebelas malam, naik Tawang Jaya saat itu harga tiketnya 150ribu. Susah banget tidur di kereta. Padahal dulu gw tidur ya tidur aja. Jadi cuman meremin mata aja sambil berharap cepet-cepet subuh. Ketika mau cari lapak buat solat subuh keesokan harinya di gerbong restorasi (gerbong makan), eh ketemu temen kuliah, sebut saja Fadhil. Dia lagi balik kampung ke Semarang sekalian liburan ke tempat istrinya di Solo. Kebetulan jg di rombongan yg naik gunung kali ini, ada beberapa temen kuliah gw, yg jg temennya Fadhil. Kami langsung ngobrol banyak. Di akhir obrolan, F...